Apakah kamu lebih memilih hidup bahagia, ataukah hidup yang penuh makna?
Sebentar… Memangnya apa beda keduanya? Kalau memang keduanya bisa membuat hidup
kita lebih baik, lantas untuk apa kita susah-susah membedakannya? Asal kamu
tahu saja, hidup bahagia dan hidup penuh makna itu ada bedanya. Yuk, cari tahu
apakah itu di artikel ini. Semoga, ulasan singkat Hipwee di bawah ini bisa
memberimu inspirasi, kehidupan dan kebahagiaan seperti apakah yang ingin kamu
cari nanti? Hidup Bahagia Dan Hidup yang Bermakna Itu Berbeda! Hidup bahagia
atau hidup bermakna? Hidup bahagia atau hidup bermakna? via unet.me Baru-baru
ini, beberapa peneliti mencoba menggali perbedaan antara hidup bahagia dan
hidup yang bermakna. Di antara dua pilihan itu, manakah yang bisa membantu
manusia menjadi lebih baik? Menurut Roy Baumeister, profesor Psikologi dari
Florida State University Amerika, terdapat beberapa perbedaan antara hidup
bahagia dan hidup bermakna. Braumeister dan tim penelitinya melakukan survey
terhadap 397 orang dewasa, untuk mencari hubungan antara tingkat kebahagiaan,
makna dan tujuan, serta beberapa aspek dari hidup mereka, seperti perilaku,
suasana hati, hubungan romantis, kesehatan, pekerjaan, dan kreativitas. Nah, di
akhir penelitian, para peneliti ini menemukan 5 perbedaan besar antara hidup
bahagia dan hidup bermakna: Orang yang bahagia akan berusaha memenuhi keinginan
dan kebutuhan mereka, tetapi mereka belum tentu meraih hidup yang bermakna.
Misalnya, orang yang bahagia akan berusaha tetap sehat, bertambah kaya, dan
mempermudah hidup mereka. Namun, hal-hal ini tidak serta merta membuat hidup
mereka bermakna. Hidup bahagia melibatkan hal-hal yang terfokus pada masa kini.
Sedangkan hidup bermakna lebih komprehensif: melibatkan hal pada masa lalu,
masa kini, masa depan, dan segala keterkaitan di antara ketiganya. Hidup
bermakna dapat diraih dengan menyedekahkan sesuatu kepada orang lain, dan hidup
bahagia datang justru ketika seseorang memberikan kita sesuatu. Hidup bermakna
akan membuatmu selalu merasa tertentang, namun kadang juga tertekan. Tingkat
ketakutan, stres dan kecemasan seseorang terkait dengan seberapa bermakna
hidupnya. Kebebasan berekspresi merupakan hal penting dalam hidup bermakna,
tetapi tidak dalam hidup bahagia Melakukan sesuatu untuk mengekspresikan diri
dan menjaga identitas diri akan membuat hidupmu bermakna, tetapi belum tentu
membuatmu bahagia! Lalu, apa sih sebenarnya kebahagiaan itu? Apa sih bahagia
itu? Apa sih bahagia itu? via www.google.co.id Penelitian lain yang dilakukan
Braumeister menunjukkan bahwa hubungan keluarga (parenting) lebih berkaitan
kepada hidup bermakna daripada bahagia. Asumsi ini didukung oleh peneliti lain,
yaitu Robin Simon dari Universitas Wake Forest, yang meneliti tingkat
kebahagiaan di antara 1400 orang dewasa dan menemukan hasil bahwa orang tua
yang memiliki anak pada umumnya memiliki emosi positif yang rendah dan emosi
negatif yang tinggi. Orang tua yang punya anak lebih bahagia Orang tua yang
punya anak lebih bahagia via www.beautybazaar.gr Tetapi Sonja Lyumbormirsky,
seorang peneliti kebahagiaan dari Universitas California, baru-baru ini juga
melakukan sebuah penelitian dengan cara yang lebih global, dengan cara menilai
kebahagiaan orang tua secara keseluruhan dan kepuasan hidup mereka dengan
melibatkan kegiatan harian mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa orang tua pada
umumnya lebih merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup mereka
dibandingkan orang yang tidak memiliki anak. Lyubomirsky mengatakan,” Menjadi
orang tua membawamu pada hal-hal yang baik, seperti: memberikan makna dalam
hidup, adanya tujuan yang harus dicapai, dan ini akan membuatmu merasa semakin
terhubung di dalamnya. Arti kebahagiaan yang sebenarnya tak bisa lepas dari
makna.” Makna dan bahagia adalah dua hal yang berkaitan dan tak terpisah Makna
dan bahagia adalah dua hal yang berkaitan dan tak terpisah via readish.com
Lyubomirsky menganggap bahwa para peneliti yang mencoba untuk memisahkan
pemaknaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang salah, karena “Makna” dan
“Bahagia” adalah dua hal yang saling terjalin dan tak terpisahkan. “Ketika kamu
merasa bahagia, dan kamu melupakan “makna” sebagai bagian dari “kebahagiaan”,
itu bukanlah sebuah kebahagiaan yang sebenarnya”, imbuhnya. Jadi, apa yang bisa
membuat kita bahagia? Bagaimana supaya bisa bahagia? Apa yang membuat kita
bahagia? via www.muglatte.com Braumeister percaya bahwa tujuan membedakan
“makna” dan “kebahagiaan” adalah mendorong banyak orang untuk mencari tahu
tujuan hidupnya. “Memiliki kehidupan yang bermakna dapat membuat seseorang
menjadi orang yang bahagia, dan menjadi orang yang bahagia juga berkontribusi
untuk menemukan kehidupan yang lebih bermakna,” ungkapnya. kesenangan untuk
diri sendiri tidak akan berlangsung lama kesenangan untuk diri sendiri tidak
akan berlangsung lama via www.diallog.com “Tapi, ada satu hal yang perlu
diperhatikan. Jika seseorang berniat hanya mencari kesenangan sementara, orang
itu kemungkinan besar berada di jalan yang salah. Selama berabad-abad, kearifan
tradisional telah menyarankan bahwa mencari kesenangan untuk kepentingan
sendiri tidak akan membuatmu benar-benar bahagia dalam jangka yang panjang,” imbuhnya.
Pada kenyataannya, mencari kebahagiaan tanpa memedulikan makna hanya akan
membuat kita stres, jengkel dan tidak tenang. Sebaliknya, ketika kita
bercita-cita memiliki kehidupan yang lebih baik, hal-hal yang bermakna –
seperti menjalin hubungan, sikap altruis, dan ekspresi diri – akan sulit
dipertahankan tanpa perasaan bahagia. dcs lakukan hal-hal yang bermakna untuk
menemukan sebuah kebahagiaan via www.roteskreuz.at Menurut Braumeister, untuk
bisa menemukan sebuah kesenangan dan kebahagiaan dalam jangka waktu yang
panjang, cobalah bekerja pada hal yang memiliki tujuan dalam jangka panjang.
Lakukan hal-hal yang baik dalam masyarakat demi alasan moral dan sebuah
pencapaian. Ciptakan makna dalam konteks yang lebih luas — jangan melulu
terpaku pada “makna hidup” menurut orang tua atau budaya. Inilah cara menemukan
tujuan dari apa yang sudah kita lakukan. Semakin tumbuh dewasa seseorang,
orientasinya terhadap kebahagiaan juga akan bergeser. Satu yang pasti,
kebahagiaan nggak hanya sekedar rasa senang, tetapi juga melibatkan usaha untuk
pencarian makna. Nah, bagaimana menurutmu sendiri? Setelah membaca artikel ini,
kebahagiaan seperti apa sih yang sekarang ingin kamu cari?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar